Struktur
modal dan teori struktur modal optimal perusahaaan :
PENDAHULUAN
Struktur
Modal merupakan perimbangan antara penggunaan modal pinjaman yang terdiri dari
: utang jangka pendek yang bersifat permanen, utang jangka panjang dengan modal
sendiri yang terdiri dari : saham preferen dan saham biasa. Maka dapat
disimpulkan bahwa pimpinan perusahaan dalam hal ini manajer keuangan harus
dapat mencari bauran pendanaan (financing mix) yang tepat agar tercapai
strktur modal yang optimal yang secara langsung akan mempengaruhi nilai perusahaan.
Pada bab sebelumnya telah dibahas apabila kita memerlukan dana untuk ekspansi,
apakah kita sebaiknya menggunakan dana yang berasal dari penerbitan obligasi
(modal pinjaman = utang) yaitu menggunakan analisis hubungan natara EBIT dan
EPS dengan mencari titik suatu strktur modal adalah menggunakan rasio-rasdio
leverage seperti yang telah dibahas pada Pengantar Manajemen Keuangan dalam Bab
Analisis Laporan Keuangan dan Analisis Arus Kas Perusahaan. Dalam bab ini kami
akan membahas mengenai Teori Stuktur Modal dan pada akhir pembahsan akan
mengulas sedikit mengenai Analisis Arus Kas Perusahaan yang sangat bermanfaat
bagi penentuan perimbangan struktur modal. Kita membagi Teori Struktur Modal
menjadi 2 (dua) kelompok besar yaitu:
1. Teori
Struktur Modal Tridional yang terdiri dari :
a. Pendekatan
laba bersih (Net Income Approach),
b. Pendekatan
laba operasi bersih (Net Operating Income Approach = NOI Approach),
c. Pendekatan
tradisional (Tradisional Approach).
Ketiga
Pendekatan struktur modal tradisional pada mulanya dikembangkan oleh David
Durand pada tahun 1952.
2. Teori
Struktur Modal Modrn yang terdiri dari :
a. Model
Modigliani-Miller (MM) tanpa pajak,
b. Model
Modigliani-Miller (MM) dengan pajak,
c. Model
Miller,
d. Financial
Distress dan Agency Costs,
e. Model
Trade Off (Model Gabungan
Antara Model Modiliani-Miller, Model Miller dan Financial Distress
and Agency Costs),
f. Teori
Informasi Tidak Simetris (Asymmetric Information Theory).
PENDEKATAN
LABA BERSIH (NET INCOME APPROACH)
Pendekatan
laba bersih (NI) mengasumsikan bahwa investor mengkapitalisasi atau menilai
laba perusahaan dengan tingkat kapitalisasi (Ke) yang konstan dan
perusahaan dapat meningkatkan jumlah utangnya dengan tingkat biaya utang (Kd)
yang konstan pula. Karena Ked an Kd konstan maka semakin besar jumlah utang
yang digunakan perusahaan, biaya modal rata-rata tertimbang (Ko)
semakin kecil sebagai akibat penggunaan utang yang semakin besar, nilai
perusahan akan meningkat apabila digunakan persamaan 6.1. dibawah ini :
V = 
Dari
grafik 6.1 dan grafik 6.2. di bawah ini tampak bahwa nilai perusahaan meningkat
jika perusahaan menggunakan utang semakin besar. Persoalannya adalah jika
pendekatan laba bersih ini benar, maka sebaiknya perusahaan menggunakan seratus
persen utang untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Apakah dalam kenyataannya
perusahaan yang dibiayai dengan seratus persen utang ?
Biaya
modal
%
![]() |
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
Grafik
6.1
Nilai
Perusahaan
V = Rp
![]() |
|||||||||
|
|||||||||
|
|
||||||||
Grafik
6.2
PENDEKATAN
LABA OPERASI BERSIH ( NET OPERATING INCOME = NOI )
Pendekatan
ini melihat bahwa biaya modal rat-rata tertimbang konstan berapapun tingkat
utang yang digunakan oleh perusahaan. Pertama, diasumsikan bahwa biaya
untang konstan seperti halnya dalam pendekatan laba bersih. Kedua,
penggunaan utang yang semakin besar oleh pemilik modal sendiri dilihat sebagai
peningkatan risiko perusahaan. Oleh karena itu tingkat keuntungan yang
disyaratkan oleh pemilik modal sendiri akan meningkat sebagai akibat
meningkatnya risiko perusahaan.
Konsekwensinya biaya modal rata-rata
tertimbang tidak mengalami perubahan dan keputusan struktur modal menjadi tidak
penting. Lihat Grafik 6.3.
Biaya
modal
%
![]() |
||||||||||
|
||||||||||
|
||||||||||
|
||||||||||
|
||||||||||
100
Rasio D/V
Gambar 6.3
Nilai
Perusahaan
V = Rp
![]() |
||||||
|
||||||
|
||||||
100
Rasio D/V
Grafik
6.1.
PENDEKATAN
TRADISIONAL (TRADITIONAL APPROACH)
Pendekatan
ini paling banyak dianut oleh para praktisi dan para akademisi. Mereka memilih
diantara kedua pendekatan diatas. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa hingga
suatu leverage tertentu, risiko perusahaan tidak mengalami perubahan. Sehingga
baik Kd maupun ke relatif konstan. Namun demikian setelah leverage atau rasio
utang tertentu, biaya utang dan biaya modal sendiri meningkat.
Peningkatan biaya modal sendiri ini
akan semakin besar dan bahkan akan lebih besar daripada penurunan biaya akan
penggunaan utang yang lebih murah. Akibatnya biaya modal rata-rata tertimbang
pada awalnya menurun dan setelah leverage tertentu akan meningkat. Oleh karena
itu nilai perusahaan mula-mula meningkat dan akan menurun sebagai akibat
penggunaan utang yang semakin besar. Dengan demikian menurut pendekatan
tradisional, terdapat struktur modal yang optimal untuk setiap perusahaan.
Struktur modal yang optimal tersebut terjadi pada saat nilai perusahaan
maksimum atau struktur modal yang mengakibatkan biaya modal rat-rata tertimbang
minimum. Pendekatan ini dapat terlihat pada Grafik 6.5. dan grafik 6.6.
Biaya
modal
%
![]() |
|||||||
|
|||||||
|
|||||||
|
|||||||
100
Rasio
D/V
Grafik 6.5
Nilai
Perusahaan
V = Rp
|
||||||
100
Rasio
D/V
Grafik 6.6
MODEL
MODIGLIANI-MILLER (MM) TANPA PAJAK
Salah
satu pertanyaan yang sering membingungkan manajer keuangan untuk dapat menjawab
secara tepat pertanyaan sebagai berikut :
-
Bagaimana hubungan antara struktur modal dan
nilai perusahaan
(harga saham) ?
-
Berapa besar modal pinjaman (asing) dan
berapa besar modal
sendiri digunakan ?
Untuk menjawab pertanyaan ini 2 (dua)
orang ahli manajemen keuangan Franco Modigliani dan Merton Miller mengajukan
suatu teori.
Pada tahun 1958 mereka mengajukan suatu
teori yang ilmiah tentang struktur modal perusahaan.
Teori
mereka mengunakan beberapa asumsi :
a. Risiko
bisnis perusahaan diukur dengan s
EBIT (Standard Deviation
Earning Before
Interest and Taxes =
devisi standar laba sebelum bunga dan pajak),
b. Investor
memiliki pengharapan yang sama tentang EBIT perusahaan di masa
mendatang.
c. Saham
dan obligasi diperjual belikan disuatu pasar modal yang sempurna.
Adapun kriteria pasar modal yang efisien adalah
:
1) Informasi
selalu tersedia bagi semua investor (symmetric information) dan dapat
diperoleh tanpa biaya.
2) Tidak
ada biaya transaksi dan investor bersikap rasional.
3) Investor
dapat melakukan diversifikasi investasi secara sempurna,
4) Tidak
ada baik pajak penghasilan perseorangan maupun pajak penghasilan perusahaan,
5) Investor
baik individu maupun intitusi dapat meminjam dengan tingkat berupa yang sama
seperti halnya perusahaan sebesar tingkat bunga bebas risiko. Utang adalah
tanpa risiko sehingga suku bunga pada utang adalah suku bunga bebas risiko.
d.
Seluruh alirah kas adalah perpetuitas (sama
jumlahnya setiap periode hingga waktu tak terhingga). Dengan kata lain,
pertumbuhan perusahaan adalah nol atau EBIT selalu sama.
Teori
ini mengemukakan 3 Preposisi yang masing-masing dalil mengemukakan 2 (dua)
rumus.
1) PREPOSISI
1
MM
berpendapat bahwa nilai setiap perusahaan tidak lain merupakan kapitalisasi
laba operaso bersih ang diharapkan atau expected net operating income (NOL =
EBIT) dengan tingkat kapitalisasi (Ko) konstan yang sesuai dengan tingkat
risiko perusahaan.
Untuk
mencari nilai perusahaan menggunakan rumus:
VL
=Vu = 
Dimana
:
VL =
Nilai perusahaan yang menggunakan utang (levered firm),
Vu =
Nilai perusahaan yang tidak menggunakan utang (unlevered
firm) atau perusahaan yang
menggunakan 100% modal sendiri,
EBIT = Earning Before Interest and Taxes
(laba sebelum bunga
dan pajak),
Ksu =
Keuntungan yang disyaratkan pada saham Unlevered
Firm.
Perlu dilengkapi dengan :
Dimana :
V
= Nilai perusahaan,
D
= Utang (Debt)
S
= Modal sendiri (stock)
Dimana
Ko = Ks U adalah tingkat keuntungan yang disyaratkan untuk
perusahaan yang seratus persen (100%) modalnya terdiri atas modal sendiri atau unlevered
firm. MM berpendapat bahwa nilai perusahaan adalah tidak tergantung atau
tidak dipengaruhi oleh struktur modal. Dengan pendapat ini secara tidak
langsung dijelaskan bahwa biaya modal rata-rata tertimbang sering disebut juga
dengan tingkat keuntungan yang diharapkan atas portofolio karena perusahaan
dapat dianggap sebagai portofolio baik untuk perusahaan yang memilih leverage
maupun tidak adalah independent terhadap struktur modal. Implikasi kedua
adalah bahwa biaya rata-rata tertimbang sama dengan biaya modal sendiri untuk
perusahaan yang tidak leverage. Dengan demikian preposisi pertama ini
sama dengan pendekatan laba operasi bersih dan untuk mendukung pendapatanya MM
secara tidak langsung menentang pendapat laba bersih dan untuk mendukung
pendapatnya MM menggunakan pembuktian adanya proses arbitrase.
Coba perhatikan kembali pendekatan
laba bersih yang menyatakan bahwa nilai perusahaan akan meningkat apabila
proporsi utang perusahaan semakin besar. MM berpendapat bahwa dalam kondisi
semacam ini dimana nilai dua perusahaan berbeda, hanya karena kedua perusahaa
tersebut memiliki struktur modal yang berbeda maka proses arbitrase akan
terjadi. Investor akan menjual saham perusahaan yang memiliki utang dengan
harga yang lebih tinggi, kemudian membeli saham perusahaan yang tidak memiliki
utang atau unlevered firm dan menginvestasikan kelebihan dananya pada
investasi lain. Dengan asumsi tidak ada biaya transaksi maka investor dapat
meningkatakan tingkat keuntungan yang diterima dengan tingkat risiko yang sama.
Proses ini akan berlangsung terus hingga kedua perusahaan memiliki nilai pasar
yang sama. Harga saham perusahaan yang tidak memiliki utang akan meningkat
sementara harga saham perusahaan yang memiliki utang akan turun. Proses ini
akan berlangsung sangat cepat dan berhenti setelah kedua saham perusahaan
tersebut memiliki harga yang sama.
Untuk memberikan gambaran misalkan
terdapat dua perusahaan sejenis A dan B. perusahaan A tidak memiliki leverage
atau seratur persen modalnya terdiri ats modal sendiri, sedangkan perusahaan B
memiliki utang dalam bentuk obligasi 7,5% sebesar Rp 900.000.000. Kedua
perusahaan tersebut memiliki laba sebelum bunga dan pajak [EBIT = Net
Operating income (NOI)] sebesar Rp 300.000.000. Tingkat risiko kedua
perusahaan yang ditunjukkkan oleh standar devisa laba sebelum bunga dan pajak
sama. Anggaplah bahwa sebelum terjadi proses arbitrase, biaya modal sendiri
kedua perusahaan sebagai tingkat kapitalisasi modal sendiri adalah KSU =
KSL = 10%. Dengan kondisi semacam ini maka nilai kedua perusahaan
tersebut adalah :
Manajemen
Keuangan
Perusahaan
A Perusahaan P
(Unlevered
firm) (Levered firm)
Laba
operasi bersih (NOI-EBIT) Rp 300.000.000 Rp
300.000.000
Laba
sebelum pajak Rp 300.000.000 Rp 232.500.000
Laba
bersih setelah pajak Rp 300.000.000 Rp 232.500.000
Nilai
Perusahaan A (Vu) :
Su =
Su
= 
Su
= Rp. 300.000.000
Vu =
D + S
Vu =
Rp 0 + Rp 3.000.000.000.
Vu =
Rp 3000.000.000.
Nilai
Perusahaan B (VL)
SL
=
SL
= 
SL
= 
SL
= Rp 2.325.000.000
VL
= Rp 2.325.000.000 + Rp 900.000.000
VL = Rp
3.225.000.000





Tidak ada komentar:
Posting Komentar